ROSARIO DEMOKRASI: Merawat Pemilu dari Bilik yang Hening
Oleh: Antonius Ndiwal, S.Fil., M.Th.
Ketua Bawaslu Kabupaten Ngada
CATATAN Penulis: Tulisan ini meminjam Rosario sebagai metafora ketekunan untuk menjelaskan kerja demokrasi, bukan dalam arti devosional liturgis Gereja.
JIKA ada doa yang paling Flores, doa itu adalah Rosario. Ia tidak diucapkan di mimbar yang tinggi, melainkan di kapela yang dindingnya masih setengah jadi, di gua Maria sederhana, di atas tikar plastik rumah umat, setelah seharian di kebun. Tidak ada musik yang meriah, yang ada hanya satu suara yang memimpin, dan puluhan suara lain yang menyahut pelan dan berulang. Dari luar terlihat sederhana, bahkan monoton. Tapi dari pengulangan yang sederhana itulah, batin kita dilatih untuk setia, komit, dan konsisten.
Saya kira, cara kita memandang pemilu harus juga disesuaikan dengan kacamata yang sama.
Kita terlalu sering menganggap pemilu sebagai panggung yang besar: panggung baliho, panggung debat di media sosial, panggung pengerahan massa, panggung hoaks. Padahal kekuatan pemilu sesungguhnya tidak ada di panggung itu. Kekuatannya ada di tempat yang paling kecil, paling sunyi, dan paling berulang, persis seperti Rosario.
Mengapa kita harus datang lagi ke TPS setiap lima tahun? Bukankah itu boros dan melelahkan? Pertanyaan itu wajar. Negara menghabiskan anggaran besar, jalan dari Bajawa sampai Lopijo di Aimere dan Warunembu di Riung Barat ramai oleh atribut kampanye. Foto kenangan moment special pada dinding rela puasa tampil digantikan stiker dan kalender. Itu lumrah, itu sah. Namun jawaban atasnya sederhana: karena kesetiaan butuh dirawat dengan pengulangan. UUD 1945 Pasal 22E ayat (1) memang memerintahkan kita untuk memilih setiap lima tahun sekali secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Tapi di balik perintah hukum itu, ada kebenaran yang lebih manusiawi, mandat yang tidak pernah dirawat akan layu dengan sendirinya.
Dari Rosario, saya belajar tiga hal untuk merawat demokrasi kita di Ngada:
1. Demokrasi Butuh Keheningan, Bukan Kebisingan
Rosario tidak pernah didaraskan dengan berteriak. Kekuatannya justru ada pada bisik yang pelan. Saat satu peristiwa direnungkan, semua hening.
Demikianlah bilik suara. Di luar TPS boleh ramai, ada saksi yang saling mengawasi, ada antrean warga, ada calon yang gundah, ada penyelenggara yang sibuk melayani. Tapi begitu tirai bilik ditutup, semua kebisingan harus berhenti. Di dalam bilik yang ukurannya tidak lebih dari satu meter itu, tidak ada lagi ketua tim sukses, tidak ada lagi janji proyek, tidak ada lagi tekanan keluarga. Hanya ada warga negara dan surat suara di tangannya. Di keheningan itulah kejujuran ditemukan.
Tugas Bawaslu Kabupaten Ngada adalah menjaga keheningan itu tetap suci. Memastikan tidak ada yang mengintip, tidak ada yang memaksa, tidak ada yang membeli keheningan itu dengan uang.
2. Demokrasi Butuh Dihitung Butir demi Butir
Orang yang ber-Rosario adalah orang yang konkret. Ia tidak berdoa secara mengawang. Ia memegang butir, ia menghitung: satu, dua, sepuluh. Iman yang abstrak dibuat menjadi nyata karena bisa dihitung.
Pengawasan pemilu seharusnya dilatih dengan cara yang sama. Selama ini kita terlalu abstrak membicarakan demokrasi: "kita harus jujur", "kita harus adil". Rosario Demokrasi mengajak kita menjadi konkret. Sudahkah kita menghitung berapa banyak tetangga kita yang belum terdaftar sebagai pemilih? Sudahkah kita menghitung berapa banyak anak muda di kampung yang apatis dan tidak mau ke TPS? Sudahkah kita berani menghitung dan melaporkan satu dugaan kejadian politik uang di lingkungan kita, sekecil apa pun? Kita mestinya tidak berhenti di spekulasi argumentasi semata.
Demokrasi tidak dirawat dengan slogan besar, melainkan dengan menghitung butir demi butir persoalan kecil di sekitar kita.
3. Demokrasi Adalah Milik Orang Kecil
Perhatikan siapa yang paling setia menjaga Rosario di lingkungan KUB/KBG kita. Bukan dominasi mereka yang punya jabatan, melainkan mama-mama, oma-oma, opa-opa, dan orang-orang sederhana. Rosario adalah doa orang kecil, doa yang tidak butuh panggung untuk dianggap sah.
TPS memiliki keagungan yang sama. Di depan surat suara, tidak ada perbedaan antara suara seorang pejabat dan suara seorang petani. Satu orang, satu suara, nilainya sama di hadapan hukum. Ini adalah satu-satunya momen di mana republik ini benar-benar setara. Ketika seorang mama datang ke TPS selesai dari pasar, dengan tutup kepala atau kain sarungnya, ia sedang menegaskan bahwa kedaulatan negara ini juga ada di tangannya.
Karena itu, setelah Rosario selesai, umat tidak pulang untuk melupakan doanya. Ia pulang untuk menghidupi doanya dalam kerja harian. Setelah dari TPS, dengan tinta yang masih basah di jari, kita juga tidak boleh pulang untuk melupakan pilihan kita. Kita diutus untuk mengawal, untuk menagih janji, untuk memastikan pemimpin yang kita pilih bekerja dengan bersih.
Bagi kita di Ngada, dengan kebijaksanaan lokal _mosalaki_ dan _gaen wongko_ yang selalu mengajarkan musyawarah dan kejujuran, Rosario Demokrasi ini adalah musyawarah besar kita yang tekun dan berulang.
Mari kita rawat negeri ini bukan dengan teriakan yang paling keras, melainkan dengan kesetiaan yang paling hening. Seperti Rosario yang didaraskan setiap hari, mari kita datang ke TPS setiap lima tahun dengan hati yang sama: hening, jujur, dan setia. Betul, pemilu masih jauh, tetapi minat dan niat berdemokrasi di TPS harus menjiwai keseharian kita.
Karena pada akhirnya, negeri ini tidak akan dimurnikan oleh mereka yang paling banyak berdebat, melainkan oleh mereka yang paling setia menjaga butir-butir kecil kejujuran di bilik suara.(*)
(*NF/REdNeraNTT.Com)