Merawat Tradisi dan Identitas Budaya Lokal
Jejak filosofis dan ketelitian para perempuan penenun Flores dalam melestarikan motif leluhur dari generasi ke generasi.
Bagi masyarakat Flores, selembar kain tenun ikat bukan sekadar busana pelindung tubuh. Tenun adalah kitab peradaban yang dipintal dengan ketabahan, doa, dan pengetahuan kosmologi yang diwariskan dari ibu kepada anak perempuannya secara berkesinambungan.
Filsafat Warna dan Motif Leluhur
Di daerah Sikka, Ende, Ngada, hingga Manggarai, setiap garis dan simbol memiliki makna filosofis tersendiri. Proses penyiapan benang katun lokal hingga pencelupan warna dari akar mengkudu, daun tarum (indigo), dan lumpur membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
"Ketika seorang perempuan menenun, ia sesungguhnya sedang menuliskan doa bagi keluarganya dan merajut ingatan masa lampau agar tidak pudar ditelan zaman."
Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Penenun
Pelestarian tenun ikat kini beriringan dengan gerakan pemberdayaan ekonomi perempuan di pedesaan. Melalui kelompok tenun mandiri, para penenun mendapatkan kepastian harga yang adil atas karya seni mereka, sekaligus mengedukasi konsumen tentang pentingnya menghargai hak cipta motif tradisional.