← Kembali ke Beranda

Pemerintah Bangun Tiga Pabrik Tepung Telur dan Daging untuk Tekan Impor

"Pembangunan pabrik ini merupakan bagian dari strategi integrasi sektor peternakan dari hulu hingga hilir. Proses ini mencakup penyediaan bahan baku pakan, penguatan produksi peternak lokal, hingga penyerapan dan pengolahan hasil produksi".

Redaksi NeraFlores • • 1 menit baca
Penulis: Redaksi NeraFlores • Bagikan: WA FB X
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman

JAKARTA, NERAFLORES.COM — Pemerintah menyiapkan pembangunan tiga pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging.

Langkah ini diambil sebagai solusi jangka panjang untuk memperkuat ekosistem peternakan nasional, menjaga stabilitas harga di tingkat peternak, serta mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan, pembangunan pabrik ini merupakan bagian dari strategi integrasi sektor peternakan dari hulu hingga hilir.

Proses ini mencakup penyediaan bahan baku pakan, penguatan produksi peternak lokal, hingga penyerapan dan pengolahan hasil produksi.

 "Kami sudah berkoordinasi dengan Menteri BUMN dan Menteri Perdagangan. Kita sepakat membangun ekosistem ternak, terutama pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging. Targetnya, pembangunan dimulai tahun depan dan selesai dalam waktu 1,5 hingga dua tahun," ujar Amran di Jakarta, Jumat (9/10/2026).

Amran menegaskan bahwa hilirisasi melalui industri pengolahan menjadi langkah fundamental agar persoalan jatuhnya harga saat pasokan melimpah (oversupply) tidak terus berulang. Kehadiran pabrik ini diharapkan mampu menyerap kelebihan produksi segar di pasar.

"Ini solusi permanen. Jika pabriknya sudah beroperasi, impor tepung telur akan kita hentikan. Harapannya, persoalan penyerapan hasil ternak yang sama tidak terus berulang," kata Amran.

 Rencana pembangunan tiga pabrik ini akan segera ditindaklanjuti dengan studi kelayakan (feasibility study). Pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi awal mencapai Rp 200 miliar per pabrik, dan dapat meningkat hingga Rp 250 miliar untuk fasilitas yang mencakup pengolahan daging.

Selain menggunakan anggaran negara, pemerintah juga membuka peluang bagi pihak swasta untuk bermitra dalam pembangunan industri strategis ini. Menurut Amran, penguatan ekosistem dari hulu ke hilir akan memberikan dampak berantai.

Petani jagung mendapatkan kepastian pasar, peternak memperoleh kepastian pasokan pakan, dan industri pengolahan menjadi penyerap saat produksi telur dan daging melimpah. Melalui pengolahan menjadi tepung, daya simpan produk peternakan menjadi lebih lama.

Dukungan terhadap rencana ini datang dari pelaku usaha peternakan. Anggota Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) sekaligus pelaku usaha dari PT Bereh Poultry Indonesia, Ii Cahyadi, menilai pembangunan pabrik pengolahan skala besar sudah sangat mendesak.

Menurut Cahyadi, industri pengolahan berskala besar membutuhkan investasi dan kapasitas masif yang sulit dipenuhi mandiri oleh peternak kecil maupun koperasi.

 "Industri seperti ini membutuhkan skala yang masif. Kita juga harus berhadapan dengan produk kiriman BUMN dari negara lain, seperti India dan China. Kehadiran pemerintah sangat diperlukan untuk membangun fondasi industri ini," kata Cahyadi.

 Ia mengapresiasi langkah cepat Kementerian Pertanian yang langsung menyetujui rencana ini. Keputusan tersebut dinilai memberikan kepastian penyerapan produksi bagi peternak lokal dalam jangka panjang.

 Kementerian Pertanian mencatat, seluruh langkah hilirisasi ini bertujuan untuk menciptakan usaha peternakan yang berkelanjutan.

Transformasi ini diharapkan mengubah struktur peternakan nasional yang semula bertumpu pada penjualan produk segar, menjadi industri terintegrasi yang mampu mengolah, menyimpan, dan memasarkan produk bernilai tambah tinggi.

 ("NF)

Berita Terkait

Berita Terbaru