
Kepala Sekolah di Ngada Nilai Program MBG Belum Dijalankan secara Adil
NERAFLORES.COM, BAJAWA - Kepala Sekolah SDI Warkeo, Kecamatan Golewa Barat, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Tadeus Nuwa, menilai pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum merata. Pasalnya, hingga saat ini masih banyak sekolah di wilayah pedesaan dan pelosok yang belum menerima manfaat program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa pelaksanaan program MBG belum sepenuhnya menjangkau seluruh anak sekolah secara adil, meskipun pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk mendukung pemenuhan gizi anak-anak di seluruh Indonesia.
Ia menilai, sekolah-sekolah di wilayah perkotaan lebih banyak menikmati program tersebut. Sementara itu, sejumlah sekolah di desa hingga pelosok masih menunggu kepastian kapan program MBG dapat diterapkan.
Meski demikian, ia mengapresiasi program MBG karena dinilai sangat membantu anak-anak dalam memenuhi kebutuhan makanan bergizi selama berada di sekolah. Dengan adanya program tersebut, siswa juga tidak perlu lagi membawa bekal dari rumah.
“Program MBG yang canangkan oleh Pemerintah kita dukung, tapi proses pemberian makanan bergizi gratis itu sangat kami sarankan itu ada unsur pemerataan, ada sekolah-sekolah yang belum dapat ada sudah dapat,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah segera mencari solusi agar sekolah-sekolah yang belum menerima program MBG juga mendapatkan pelayanan yang sama.
“Harus ada solusi bagi kami yang belum dapat, sehingga ada unsur pemerataan seluruh anak Indonesia,” ujar kepala sekolah tersebut.
Ia mengaku, sekolah yang belum mendapatkan program MBG, termasuk SDI Warkeo, merasa diabaikan dan belum mendapatkan perhatian yang semestinya.
“Terus terang kami merasa diabaikan dan tidak perhatikan. Sangat kami harapkan supaya ada pemerataan,” katanya.
Menurutnya, harapan agar program MBG segera menjangkau sekolah mereka juga disampaikan oleh para orang tua murid.
Saat rapat komite sekolah, kata dia, sejumlah orang tua murid mempertanyakan kapan program MBG mulai diterapkan di sekolah tersebut. Mereka berharap program itu dapat membantu memenuhi kebutuhan makanan anak-anak selama mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
“Saat rapat komite orang tua ada bertanya, bagamana MBG ini, minimal agar anak-anak tidak perlu lagi bawah bekal ke sekolah,” tambahnya.
Berdasarkan data penyerapan program MBG di Kabupaten Ngada, hingga saat ini terdapat 16 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di wilayah tersebut. Dari jumlah itu, sembilan SPPG telah beroperasi, sedangkan tujuh SPPG lainnya masih menunggu proses pencairan dana melalui virtual account.
Jumlah penerima manfaat yang telah terlayani mencapai 20.346 orang dari target 56.850 penerima manfaat. Dengan demikian, masih terdapat 36.504 penerima manfaat yang belum terlayani berdasarkan perbandingan data tersebut.
Program MBG di Kabupaten Ngada juga menyerap 468 tenaga kerja yang seluruhnya disebut berasal dari warga lokal.
Sementara itu, dana MBG yang masuk ke wilayah Kabupaten Ngada tercatat sebesar Rp53.890.882.608. Dari total dana tersebut, 70 persen dialokasikan untuk pembelian bahan baku dari pemasok, 20 persen untuk kebutuhan operasional SPPG, termasuk gaji relawan, gas, listrik, dan air, sedangkan 10 persen digunakan untuk pembayaran insentif yayasan.
Data tersebut menunjukkan bahwa program MBG telah berjalan di sejumlah wilayah Kabupaten Ngada. Namun, pemerataan penerima manfaat masih menjadi perhatian, terutama bagi sekolah-sekolah di pedesaan dan pelosok yang hingga kini belum menerima program tersebut.(*)

