
Program Nasional, Dipo Nusantara Kolaborasi Kementerian Lingkungan Hidup untuk Tangani Sampah di Ngada
NERANTT.COM, NGADA - Anggota DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Komisi XII, NM Dipo Nusantara Pua Upa, berkolaborasi bersama perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia menggelar sosialisasi penanganan sampah, kedaruratan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3), serta limbah.
Kegiatan sosialisasi berlangsung di Aula Biara Susteran Sang Timur Bejo, Desa Ubedolumolo, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada. Kamis, 22/ 10/ 2026.
Sosialisasi penanganan sampah, kedarurtan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun serta limbah merupakan program strategis nasional yang digalakkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama legislatif Komisi XII DPR RI.
Program sosialisasi ini bertujuan membangun kapasitas sumber daya manusia di tingkat lokal agar mampu memilah sampah mandiri serta sigap menghadapi ancaman pencemaran lingkungan akibat bahan kimia berbahaya.
Selain itu juga, tujuan lain dalam kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran dengan memberikan pemahaman bahwa sampah atau limbah tidak boleh dibuang sembarangan.
Selain itu, kesiapsiagaan kedaruratan dengan melatih masyarakat dan pemangku kepentingan agar tahu langkah cepat saat terjadi kebocoran atau tumpahan.
Diharapkan adanya kolaborasi multisektor seperti membangun koordinasi antara pemerintah daerah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), badan kesehatan dan masyarakat.
Anggota DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Komisi XII, NM Dipo Nusantara Pua Upa menegaskan bahwab penanganan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat harus terlibat aktif dengan mengubah kebiasaan sehari-hari, terutama dalam mengurangi dan memilah sampah sejak dari sumbernya.
“Persoalan sampah tidak akan selesai hanya dengan mengangkut sampah dari satu tempat ke tempat lain. Sampah harus dikurangi sejak dari sumbernya,” tegas Dipo.
Menurutnya, rumah tangga menjadi titik awal yang menentukan keberhasilan pengelolaan sampah. Kebiasaan sederhana seperti mengurangi penggunaan barang sekali pakai, memilah sampah, dan memanfaatkan kembali barang yang masih layak dapat memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten.
Ia menjelaskan, pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari keluarga, pasar, sekolah, perkantoran, pelaku usaha, hingga kelompok masyarakat.
Sampah organik, misalnya, dapat diolah menjadi kompos. Sementara sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dikumpulkan melalui bank sampah untuk kemudian dimanfaatkan dalam kegiatan daur ulang.
Adapun sampah residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali perlu ditangani melalui sistem pengangkutan dan pengolahan yang tepat agar tidak mencemari lingkungan.
Dengan pemilahan sejak dari rumah, volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir diharapkan dapat ditekan.
Sebagai Anggota DPR RI Komisi XII, Dipo menegaskan bahwa keberhasilan program pengelolaan sampah tidak cukup diukur dari jumlah kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan.
Menurutnya, ukuran keberhasilan harus terlihat dari perubahan perilaku masyarakat, berkurangnya volume sampah yang dibuang, meningkatnya jumlah sampah yang berhasil diolah, serta manfaat ekonomi dan lingkungan yang dirasakan warga.
“Ukuran keberhasilan bukan seberapa sering sosialisasi dilaksanakan, melainkan seberapa besar perubahan yang terjadi setelah kegiatan ini selesai,” tandasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya tindak lanjut setelah kegiatan sosialisasi. Masyarakat perlu didorong untuk menerapkan pemilahan sampah secara rutin, sedangkan pemerintah harus memperkuat dukungan fasilitas dan sistem pengelolaan agar kebiasaan tersebut dapat berjalan berkesinambungan.
Dipo berharap kegiatan sosialisasi pengurangan sampah dan pembinaan kelompok masyarakat di Kabupaten Ngada menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran kolektif dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Melalui pengurangan sampah dari rumah, pemilahan, daur ulang, serta penerapan teknologi pengolahan yang sesuai dengan kebutuhan daerah, Kabupaten Ngada diharapkan mampu mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Sampah bukan sekadar persoalan kebersihan, melainkan tantangan yang membutuhkan perubahan perilaku, dukungan kebijakan, dan solusi teknologi. Jika dikelola dengan benar, sampah dapat dikurangi, dimanfaatkan kembali, bahkan berpotensi menjadi sumber energi dan peluang ekonomi bagi masyarakat.*

