← Kembali ke Beranda
NTT

Wagub NTT Ajak Gereja Jadi Pusat Pemberdayaan dan Atasi Stunting

"Gereja diharapkan menjadi mitra strategis pemerintah dalam mengatasi berbagai persoalan daerah, mulai dari pengentasan kemiskinan, penanganan stunting, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia"

Redaksi NeraFlores • • 2 menit baca
Penulis: Redaksi NeraFlores • Bagikan: WA FB X
Peresmian Gedung GMIT Golgota Alak Kota Kupang
Peresmian Gedung GMIT Golgota Alak Kota Kupang

KUPANG, NERAFLORES.COM — Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Johni Asadoma mengajak institusi gereja untuk memperluas jangkauan pelayanannya ke sektor sosial.

Gereja diharapkan menjadi mitra strategis pemerintah dalam mengatasi berbagai persoalan daerah, mulai dari pengentasan kemiskinan, penanganan stunting, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Pesan tersebut disampaikan Johni saat meresmikan Gedung Kebaktian Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Golgota Alak, Kota Kupang, Minggu (11/10/2026).

Dalam acara tersebut, Wagub didampingi oleh Staf Ahli TP PKK Provinsi NTT, Vera Asadoma. Johni menekankan bahwa kemegahan fisik bangunan tempat ibadah harus berbanding lurus dengan pertumbuhan iman dan kesejahteraan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

 "Tanpa SDM yang unggul dan berdaya saing, kita tidak akan maju. Gerejanya berdiri, tetapi kita juga harus melihat lingkungan masyarakatnya, apakah jemaatnya ikut maju? Ini yang harus menjadi pemikiran kita bersama," ujar Johni.

Menurut Johni, rumah ibadah tidak boleh pasif dan hanya beroperasi pada hari Minggu. Ia mendorong pemanfaatan fasilitas gereja setiap hari untuk kegiatan yang produktif, seperti pembinaan kapasitas pemuda dan program sosial kemasyarakatan. Ia juga mengutip pemikiran dari buku Menatap Masa Depan karya Ketua Majelis Sinode GMIT Pendeta Samuel Pandie. Buku tersebut menekankan pentingnya kehadiran gereja di tengah realitas sosial masyarakat, bukan sekadar di balik mimbar altar.

 "Gereja harus turun ke masyarakat dan melihat langsung permasalahan yang mereka hadapi. Pelayanan kita harus menjangkau keluar, bukan hanya di dalam gedung," tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Panitia Pembangunan Christian Baitanu melaporkan bahwa pembangunan gedung ini memakan waktu sekitar lima tahun. Peletakan batu pertama telah dilakukan sejak 7 September 2021. Gedung gereja baru ini berdiri di atas lahan seluas 930 meter persegi. Pembangunannya berhasil dirampungkan berkat kolaborasi dana swadaya jemaat, bantuan pemerintah, serta kontribusi para donatur.

 "Kerinduan jemaat selama bertahun-tahun akhirnya terwujud. Saat ini, panitia juga sedang menyusun buku sejarah pembangunan GMIT Golgota Alak yang direncanakan terbit tahun depan sebagai dokumentasi perjuangan iman bagi generasi penerus," kata Christian.

Acara peresmian ini turut dihadiri oleh Ketua Majelis Sinode GMIT Pendeta Samuel Pandie, jajaran anggota DPRD Kabupaten Kupang, Sekretaris Daerah Kota Kupang, jajaran pemerintah kecamatan dan kelurahan Alak, Ketua Klasis Kota Kupang Barat, serta ratusan jemaat setempat.

(*NF)

Berita Terkait

Berita Terbaru